Monday, 2 March 2015

29 Kutipan Fotografi dari Henri Cartier-Bresson

Sama seperti musik dan film, ada beragam genre dalam fotografi. Landscape, macro, portrait, wedding, human interest, underwater, pinhole, nude, dan masih banyak lainnya. Nah, gara-gara sering nonton saluran DigitalRev TV, saya jadi tertarik untuk mendalami genre street photography. Sama nude juga tertarik sih, tapi takutnya nanti malah menjerusnya pornografi bukan fotografi. Pfft~

henri cartier bresson

Henri Cartier-Bresson! Jika ngomongin street photography maka nama fotografer satu ini pasti bakal sering didengar. Ya, karena beliau lah yang mengembangkan apa yang kemudian disebut “fotografi jalanan”, yang memadukan elemen-elemen fotojurnalisme, foto-dokumentasi, dan pendekatan artistik lainnya.
22 Agustus. 106 tahun yang lalu, “father of street photography” ini lahir ke dunia, tepatnya di Chanteloup-en-Brie, Seine-et-Marne, Perancis. Dan sebagai penghormatan kepada beliau, maka saya akan membagi beberapa kutipan-kutipannya soal fotografi dengan tambahan hasil jepretannya.
© Henri Cartier-Bresson / Magnum Photos
#1 Your first 10,000 photographs are your worst.
10.000 jepretan foto pertama kita adalah yang terburuk. Jadi teruslah memotret pakai mode burst.

#2 It is an illusion that photos are made with the camera… they are made with the eye, heart and head.
Foto bukan dibuat dengan kamera. Foto itu dibuat dengan mata, hati dan kepala. Tapi tanpa kamera ga bakalan ada foto sih.

#3 To photograph: it is to put on the same line of sight the head, the eye and the heart.
Memfoto itu adalah menyejajarkan antara kepala, mata dan hati. Kameranya juga harus sejajar dengan obyek yang mau kita foto.

#4 A photograph is neither taken or seized by force. It offers itself up. It is the photo that takes you. One must not take photos.
Foto yang akan mendatangi kita. Tapi sama seperti jodoh, kalau ga dicari tetap aja kita jadi jomblo.
#5 Of all the means of expression, photography is the only one that fixes a precise moment in time.
Ya, foto itu media ekspresi untuk mengabadikan suatu momen berharga.
© Henri Cartier-Bresson / Magnum Photos
#6 The picture is good or not from the moment it was caught in the camera.
Baik buruknya sebuah foto tergantung pada momen yang tertangkap kamera. Bukan soal kameranya.
#7 The creative act lasts but a brief moment, a lightning instant of give-and-take, just long enough for you to level the camera and to trap the fleeting prey in your little box.
Percepat proses berpikir kreatif kita, soalnya proses untuk menjepret itu yang lama.
#8 To me, photography is the simultaneous recognition, in a fraction of a second, of the significance of an event.
Dalam sepersekian detik, suatu peristiwa penting bisa terjadi. Jadi fotografi itu soal kesimultanan.
#9 Photography is, for me, a spontaneous impulse coming from an ever attentive eye which captures the moment and its eternity.
Fotografi adalah dorongan spontan mata untuk mengabadikan suatu momen.
#10 Your eye must see a composition or an expression that life itself offers you, and you must know with intuition when to click the camera.
Mata kita harus bisa melihat komposisi maupun ekspresi, dan percaya pada intuisi ketika menjepret.
© Henri Cartier-Bresson / Magnum Photos
 #11 For me, the camera is a sketch book, an instrument of intuition and spontaneity.
Kamera adalah buku gambar, dan perkakasnya adalah intuisi serta spontanitas.
#12 Above all, I craved to seize the whole essence, in the confines of one single photograph, of some situation that was in the process of unrolling itself before my eyes.
Satu foto harus bisa mendeskripsikan seluruh esensi dari momen yang kita tangkap.
#13 Memory is very important, the memory of each photo taken, flowing at the same speed as the event. During the work, you have to be sure that you haven’t left any holes, that you’ve captured everything, because afterwards it will be too late.
Jepret ini itu sebelum terlambat.
#14 Photographers deal in things which are continually vanishing and when they have vanished there is no contrivance on earth which can make them come back again.
Penyesalan selalu datang di akhir.
© Henri Cartier-Bresson / Magnum Photos
#15 This recognition, in real life, of a rhythm of surfaces, lines, and values is for me the essence of photography; composition should be a constant of preoccupation, being a simultaneous coalition – an organic coordination of visual elements.
Komposisi. Elemen penting dari fotografi.
#16 Reality offers us such wealth that we must cut some of it out on the spot, simplify. The question is, do we always cut out what we should?
Realitas menawarkan kita sesuatu yang banyak, dan tugas kita lah memotong dan menyederhanakan dalam sebuah foto.
#17 While we’re working, we must be conscious of what we’re doing.
Kalau lagi kerja, jangan sambil mabuk.
#18 We must avoid however, snapping away, shooting quickly and without thought, overloading ourselves with unnecessary images that clutter our memory and diminish the clarity of the whole.
Jangan asal jepret!
© Henri Cartier-Bresson / Magnum Photos
#19 A photographer must always work with the greatest respect for his subject and in terms of his own point of view.
Jadi fotografer itu jangan songong.
#20 In photography, the smallest thing can be a great subject. The little, human detail can become a Leitmotiv.
Dalam fotografi, hal terkecil bisa jadi subyek yang besar.
#21 The most difficult thing for me is a portrait. You have to try and put your camera between the skin of a person and his shirt.
Yang paling sulit itu fotografi portrait. Kamu harus berusaha meletakan kameramu antara kulit subyek fotomu dan pakaiannya.
#22 As time passes by and you look at portraits, the people come back to you like a silent echo. A photograph is a vestige of a face, a face in transit. Photography has something to do with death. It’s a trace.
Jangan foto portrait kalau ga mau si subyek menghantui kita.
© Henri Cartier-Bresson / Magnum Photos
#23 As far as I am concerned, taking photographs is a means of understanding which cannot be separated from other means of visual expression. It is a way of shouting, of freeing oneself, not of proving or asserting one’s own originality. It is a way of life.
Fotografi bukan soal gaya-gayaan semata, tapi ini jalan hidup.
#24 Thinking should be done before and after, not during photographing.
Berpikir harus dilakukan sebelum dan sesudahnya, bukan saat menjepret.
#25 Photography is an immediate reaction, drawing is a meditation.
Fotografi adalah reaksi langsung, menggambar adalah meditasi.
© Henri Cartier-Bresson / Magnum Photos
#26 The intensive use of photographs by mass media lays ever fresh responsibilities upon the photographer. We have to acknowledge the existence of a chasm between the economic needs of our consumer society and the requirements of those who bear witness to this epoch. This affects us all, particularly the younger generations of photographers. We must take greater care than ever not to allow ourselves to be separated from the real world and from humanity.
Jangan asal jepret demi uang semata.
#27 I believe that, through the act of living, the discovery of oneself is made concurrently with the discovery of the world around us.
Dengan menjelajahi satu orang kita bisa menjelajahi seluruh dunia.
#28 You just have to live and life will give you pictures.
Kamu hanya harus hidup, dan kehidupan akan memberimu gambar.
#29 Of course it’s all luck.
Semuanya hanya tentang keberuntungan.
© Henri Cartier-Bresson / Magnum Photos

HCB merupakan pengguna Leica, sehingga biasanya streetog menjadikan ‘Lamborghini-nya kamera’ ini sebagai barang keramat untuk melakukan fotografi jalanan. Tapi untuk mengabadikan jalanan ga perlu punya kamera rangefinder super mahal ini, karena kamera terbaik ya kamera yang sedang kita pegang saat di jalan.

Skill pendukung fotografer di era modern

Kata orang bijak, kalau mau memperbaiki diri buatlah rencana dan…beraksi. Begitu pula dalam fotografi. Jika FK-wan ingin memperbaiki kualitas fotografi Anda, ada beberapa hal yang harus/bisa dilakukan.

Foto oleh Bastian AS/Fotokita.net

1. Pelajari dengan baik fungsi dan fitur kamera FK-wan
Berapa banyak dari kita yang membaca buku manual kamera? Sedikit sekali. Apa pun kamera Anda, sebaiknya baca secara tuntas semua fungsi, dan bagaimana cara menggunakannya untuk mendapatkan hasil terbaik. Tidak masalah apakah kamera DSLR, kamera saku, atau kamera ponsel, pemahaman akan cara kerjanya dan apa yang bisa FK-wan lakukan dengan kamera dapat membantu Anda menggunakannya dengan efektif.

Jika Anda tidak punya banyak waktu untuk membaca buku manual secara tuntas, coba cari hal-hal yang baru bagi Anda. Bisa juga via website atau blog. Siapa tahu ada yang sudah mereview kamera Anda. Lakukan pencarian dengan Google, mungkin ada hal-hal menarik yang diulas di sana, yang tidak ada dalam buku manual.
2. Baca tutorial setiap hari
Buatlah komitmen untuk meluangkan waktu membaca (dan mempraktikkan) tutorial setiap hari. Ada ratusan, bahkan ribuan, blog fotografi yang menulis panduan dan tutorial yang akan mengajari Anda hal-hal baru.

3. Memotret still life di rumah
Seorang fotografer top pernah berkata, “kalau ingin mendapatkan foto bagus, cobalah keluar rumah.” Kata-kata itu ada benarnya. Tapi untuk mengasah skill-skill dasar, cobalah dulu membuat sesi still life…di dalam rumah atau kamar FK-wan sendiri. FK-wan bisa memotret benda-benda seperti bunga, makanan, perhiasan, mainan, atau apa pun. Praktikkan teknik-teknik seperti komposisi dan pencahayaan. Selain menghemat biaya perjalanan, cara ini juga menghemat waktu.

4. Lakukan photowalk di kota Anda
Jika ada kesempatan untuk berjalan-jalan di sekitar rumah atau kota tempat tinggal Anda, lakukanlah. FK-wan mungkin sudah ribuan kali melewati suatu tempat tertentu dan tidak pernah berpikir untuk menjadikannya subjek foto. Ini salah satu cara melatih kepekaan. Bakal banyak sekali peluang atau kemungkinan yang bisa difoto dalam lingkup kota. (Baca juga kiat memotret kota.)

5. Keluar pada pagi dan sore hari
Jika ada hal yang patut diburu oleh seorang fotografer, itulah golden hours. Pagi hari, waktu dengan cahaya masih lembut adalah pukul 5.30-8.00. Sedangkan pada sore hari sekitar pukul 16.00-18.30. Jika FK-wan seorang pekerja kantoran, golden hours bisa dimanfaatkan untuk memotret kondisi lalu lintas di pagi hari, atau suasana di terminal atau titik-titik arus manusia lainnya untuk mendapatkan nuansa street photography.

6. Belajar bersabar
Terutama jika berurusan dengan fotografi lanskap atau travel. FK-wan perlu menunggu untuk mendapatkan cuaca yang baik, atau posisi spesifik matahari. Jika saja kesabaran ini dilatih terus, kemungkinan untuk mendapatkan hasil yang bagus semakin besar.

7. Temukan perspektif yang unik
Kadangkala, foto yang menarik datang dari perspektif yang menarik. Subjek yang klise bahkan bisa dibuat menarik dengan angle yang unik dan kreatif. Cobalah memotret dengan ground level (atau frog eye) ketimbang eye level, gunakan tangga untuk mendapat sudut yang ekstrem, dan banyak cara lainnya. Pelajari juga beragam angle yang mungkin dilakukan.

8. Mulai gunakan tripod
Kegunaan tripod bukan hanya untuk menjaga kamera tetap “steady” sehingga menghasilkan foto yang tajam, melainkan ada keuntungan tersembunyi lain. Dengan menggunakan tripod, Anda “dipaksa” untuk bekerja dengan lebih hati-hati. Anda akan membutuhkan waktu untuk mendapatkan komposisi yang benar, dan bakal berpikir lebih banyak. Dengan tripod, Anda juga bisa bereksperimen dengan teknik long exposure. Beberapa tripod memang mahal, tapi untuk belajar tidak perlu beli yang terlalu canggih.

9. Langgar kebiasaan-kebiasaan Anda
Kebanyakan dari kita memiliki kebiasaan-kebiasaan tertentu dalam memotret: subjek yang biasa kita ambil, waktu yang kita pilih, lokasi, komposisi, sampai alur kerja pascaproduksi. Cobalah sesekali melanggar kebiasaan itu agar Anda mengenal hal baru dan mencoba hal baru. Jangan-jangan hal baru justru memperbaiki kelemahan Anda. Misal, jika Anda selalu memotret saat pagi hari, cobalah sore hari. Jangan-jangan Anda justru lebih “akrab” dengan cahaya jingga.

10. Minta masukan/kritik
Kunci untuk memperbaiki diri adalah mendapatkan masukan dari orang lain. Anda bisa melakukannya dengan menanyakan pendapat teman dan keluarga, apa yang mereka suka/tidak suka dari foto Anda. Saat ini, banyak pula medium untuk mendapatkan feedback dari orang, salah satunya ya lewat Fotokita.net ini.

Tambahan: 11. memotret, memotret, dan terus memotret
Anda tidak akan pernah bisa memperbaiki diri jika malas memotret. Jadi, sering-seringlah memotret.

(Sumber: Picturecorrect.com, diolah)
Salah seorang mentor saya pernah mengatakan bahwa saat ini fotografi sudah menjadi milik publik. Hal ini merujuk kepada kepemilikan alat. Pada era fotografi film, hanya segelintir orang yang memiliki kamera karena saat itu fotografi dinilai sangat mahal, baik alat maupun proses cuci cetak (termasuk harga roll film). Sekarang banyak kalangan yang bisa menikmati fotografi dari berbagai gadget, baik DSLR maupun jenis kamera pocket/compact.

Profesi fotografer pun sekarang sepertinya menjadi predikat semua orang yang memegang kamera. Tuntutan fotografer di era modern ini jauh lebih kompleks karena kita hidup di era teknologi. Sebagai fotografer yang rajin menabung untuk masa depan, kita harus belajar bidang lain yang berkaitan dengan fotografi. Salah satunya adalah multimedia. Mari kita kupas mengapa multimedia penting bagi fotografer.
Seperti biasa, mengerti arti kata multimedia sangat penting. Multimedia itu bisa jadi sebuah produk yang berasal dari banyak media. Menurut BBC, multi media adalah suatu kombinasi dari komponen text, audio, visual serta video (gambar gerak). Sudah jelas bahwa fotografi masuk dalam komponen visual. Dari segi produk, fotografi sendiri sudah bisa berdiri sendiri dengan output berupa foto.
Saya lebih tertarik untuk menarik keluar 4 komponen dari arti multimedia, yaitu text, audio, visual serta video, karena mereka itulah media bisa dimaksimalkan (baik terpisah ataupun serempak) untuk menyampaikan pesan khalayak luas.
Fotografer sebagai produsen visual harus menyadari bahwa hidup di era digital harus selalu mengasah kemampuan non fotografis untuk bisa bersaing dengan fotografer di seluruh dunia. Untuk itu seorang fotografer harus menguasai 4 komponen tersebut, dan tidak mudah untuk mempelajari semua elemen tersebut. Pengalaman bisa menjadi guru yang baik. Mencoba dan melakukan kesalahan bisa menjadi pelajaran. Disiplin bisa menjadi cara ampuh untuk menguasai 4 elemen tersebut.

Text

Fotografer jurnalis memang sudah akrab dengan text, karena dalam setiap foto tunggal harus menulis caption, ataupun harus menulis naskah pendek untuk melengkapi foto essay/story. Mulai dari menulis caption, bisa dikembangkan menjadi sebuah cerita pendek. Dari sebuah cerita pendek, bisa diubah menjadi sebuah tulisan reportase. Dari sebuah tulisan reportase, bisa diubah menjadi tulisan opini. Dasar menulis sudah mengakar di seorang fotografer, dan itu yang harus dikembangkan. Bukankah menyenangkan mengembangkan potensi untuk mendukung kegiatan fotografi kita?
Lalu kemanakah text-text yang sudah dibuat itu muncul? Paling simpel dan memungkinkan adalah di BLOG. Menghadirkan tulisan-tulisan di tengah-tengah kesibukan menjadi seorang jurnalis memang sangat sulit. Namun sekali lagi, tidak ada salahnya dicoba. Banyak foto jurnalis di dunia ini menyempatkan waktunya untuk mengisi blog sebagai rumah pribadi untuk tulisan-tulisan personal mereka. Anda mengenal John Stanmeyer? Simak blognya disini. Dia menuliskan banyak pengalamannya saat liputan di belahan dunia dan banyak hal yang bisa kita petik pelajaran dari blognya John Stanmeyer yang dimulai tahun 2011 ini.

Audio

Sewaktu bekerja dengan John Stanmeyer, saya pertama kali mengetahui bahwa dia selalu merekam apa yang terjadi saat dia motret. Hal tersebut populer dengan sebutan field recording. Apa tujuan dari field recording tersebut? Menurut saya melihat slide show dengan musik tertentu itu sangat mengasyikkan, namun ada satu hal yang mengganjal. Copyright lagu adalah tembok utama ketika kita ingin upload slide show foto kita di internet. Salah satu cara yang paling unik adalah dengan menghadirkan field recording sebagai pengganti music pada slide show foto.
Berarti seorang fotografer harus belajar mengedit audio dalam software tertentu. Terus terang, saya belum pernah belajar secara spesifik tentang audio dan recording. Mencari tahu di Google adalah jalan tengahnya, selalu ada cara untuk mengembangkan diri.

Visual

Sebuah elemen dasar dari seorang fotografer adalah visual. Fotografer harus sadar, paham dan mengerti bahwasanya foto yang dihasilkannya adalah sebuah bahasa visual yang seharusnya mudah dipahami oleh khalayak luas. Selalu terdapat pesan tersirat maupun tersurat dalam sebuah foto. Kendali dalam 2 sifat pesan tersebut terletak pada fotografer, dalam artian bagaimana cara penyajian fotografer kepada khalayak? Jika ingin disajikan ke belahan dunia luas, apakah elemen visual yang ada di dalam foto sudah bisa diterima orang-orang di negara lain, yang notabene diwakili oleh seorang editor foto?
Jaman ini jaman edan, dimana 300 juta foto di upload di Facebook. Sebuah konsumsi visual yang gila bukan? Berapa foto yang ter upload di internet jika FB sudah menyumbang 300 juta? Sisi baiknya adalah semakin banyak literasi visual dari website-website bermutu yang akan menjadi sumber referensi, motivasi dan inovasi dalam fotografi.

Video (gambar gerak)

Kamera DSLR kita sudah dilengkapi kemampuan merekam dalam format HD adalah sebuah nilai plus dari seorang fotografer. Bisa menghasilkan sebuah video reportase lengkap beserta foto-foto mungkin akan menjadi keharusan di masa mendatang. Bukan hanya video, gambar gerak seperti time lapse juga menarik untuk dikaji sebagai salah satu media penyampai informasi dengan cara yang unik.

Tambahan

Apa yang terjadi jika suatu saat anda menerima job, namun setelah di lapangan klien anda memberikan Anda kamera medium format? Padahal anda sudah membawa kamera DSLR full frame? Tidak semua fotografer dapat mengoperasikan semua jenis kamera, dan itu pengalaman yang terjadi saat saya bekerja sebagai asisten salah seorang fotografer di Sydney. Dia tidak bisa menggunakan kamera medium format. Untung saya sudah pernah memakai kamera medium format sebelumnya, meskipun tidak terlalu mahir. Saya pun langsung betulin semua settingnya dan bos saya sudah tinggal jepret saja.
Dari cerita ini dapat ditarik pelajaran bahwa pengetahuan akan alat sangat penting untuk seorang fotografer. Tidak perlu memilikinya, saya tahu menu-menu kamera medium format juga dari YouTube.

Kesimpulan

4 skill diatas adalah pembeda Anda dengan yang lain.
Tetap semangat
2w_^

- See more at: http://www.infofotografi.com/blog/2013/02/skill-pendukung-fotografer-di-era-modern/#sthash.qGHwnnqq.dpuf
Salah seorang mentor saya pernah mengatakan bahwa saat ini fotografi sudah menjadi milik publik. Hal ini merujuk kepada kepemilikan alat. Pada era fotografi film, hanya segelintir orang yang memiliki kamera karena saat itu fotografi dinilai sangat mahal, baik alat maupun proses cuci cetak (termasuk harga roll film). Sekarang banyak kalangan yang bisa menikmati fotografi dari berbagai gadget, baik DSLR maupun jenis kamera pocket/compact.

Profesi fotografer pun sekarang sepertinya menjadi predikat semua orang yang memegang kamera. Tuntutan fotografer di era modern ini jauh lebih kompleks karena kita hidup di era teknologi. Sebagai fotografer yang rajin menabung untuk masa depan, kita harus belajar bidang lain yang berkaitan dengan fotografi. Salah satunya adalah multimedia. Mari kita kupas mengapa multimedia penting bagi fotografer.
Seperti biasa, mengerti arti kata multimedia sangat penting. Multimedia itu bisa jadi sebuah produk yang berasal dari banyak media. Menurut BBC, multi media adalah suatu kombinasi dari komponen text, audio, visual serta video (gambar gerak). Sudah jelas bahwa fotografi masuk dalam komponen visual. Dari segi produk, fotografi sendiri sudah bisa berdiri sendiri dengan output berupa foto.
Saya lebih tertarik untuk menarik keluar 4 komponen dari arti multimedia, yaitu text, audio, visual serta video, karena mereka itulah media bisa dimaksimalkan (baik terpisah ataupun serempak) untuk menyampaikan pesan khalayak luas.
Fotografer sebagai produsen visual harus menyadari bahwa hidup di era digital harus selalu mengasah kemampuan non fotografis untuk bisa bersaing dengan fotografer di seluruh dunia. Untuk itu seorang fotografer harus menguasai 4 komponen tersebut, dan tidak mudah untuk mempelajari semua elemen tersebut. Pengalaman bisa menjadi guru yang baik. Mencoba dan melakukan kesalahan bisa menjadi pelajaran. Disiplin bisa menjadi cara ampuh untuk menguasai 4 elemen tersebut.

Text

Fotografer jurnalis memang sudah akrab dengan text, karena dalam setiap foto tunggal harus menulis caption, ataupun harus menulis naskah pendek untuk melengkapi foto essay/story. Mulai dari menulis caption, bisa dikembangkan menjadi sebuah cerita pendek. Dari sebuah cerita pendek, bisa diubah menjadi sebuah tulisan reportase. Dari sebuah tulisan reportase, bisa diubah menjadi tulisan opini. Dasar menulis sudah mengakar di seorang fotografer, dan itu yang harus dikembangkan. Bukankah menyenangkan mengembangkan potensi untuk mendukung kegiatan fotografi kita?
Lalu kemanakah text-text yang sudah dibuat itu muncul? Paling simpel dan memungkinkan adalah di BLOG. Menghadirkan tulisan-tulisan di tengah-tengah kesibukan menjadi seorang jurnalis memang sangat sulit. Namun sekali lagi, tidak ada salahnya dicoba. Banyak foto jurnalis di dunia ini menyempatkan waktunya untuk mengisi blog sebagai rumah pribadi untuk tulisan-tulisan personal mereka. Anda mengenal John Stanmeyer? Simak blognya disini. Dia menuliskan banyak pengalamannya saat liputan di belahan dunia dan banyak hal yang bisa kita petik pelajaran dari blognya John Stanmeyer yang dimulai tahun 2011 ini.

Audio

Sewaktu bekerja dengan John Stanmeyer, saya pertama kali mengetahui bahwa dia selalu merekam apa yang terjadi saat dia motret. Hal tersebut populer dengan sebutan field recording. Apa tujuan dari field recording tersebut? Menurut saya melihat slide show dengan musik tertentu itu sangat mengasyikkan, namun ada satu hal yang mengganjal. Copyright lagu adalah tembok utama ketika kita ingin upload slide show foto kita di internet. Salah satu cara yang paling unik adalah dengan menghadirkan field recording sebagai pengganti music pada slide show foto.
Berarti seorang fotografer harus belajar mengedit audio dalam software tertentu. Terus terang, saya belum pernah belajar secara spesifik tentang audio dan recording. Mencari tahu di Google adalah jalan tengahnya, selalu ada cara untuk mengembangkan diri.

Visual

Sebuah elemen dasar dari seorang fotografer adalah visual. Fotografer harus sadar, paham dan mengerti bahwasanya foto yang dihasilkannya adalah sebuah bahasa visual yang seharusnya mudah dipahami oleh khalayak luas. Selalu terdapat pesan tersirat maupun tersurat dalam sebuah foto. Kendali dalam 2 sifat pesan tersebut terletak pada fotografer, dalam artian bagaimana cara penyajian fotografer kepada khalayak? Jika ingin disajikan ke belahan dunia luas, apakah elemen visual yang ada di dalam foto sudah bisa diterima orang-orang di negara lain, yang notabene diwakili oleh seorang editor foto?
Jaman ini jaman edan, dimana 300 juta foto di upload di Facebook. Sebuah konsumsi visual yang gila bukan? Berapa foto yang ter upload di internet jika FB sudah menyumbang 300 juta? Sisi baiknya adalah semakin banyak literasi visual dari website-website bermutu yang akan menjadi sumber referensi, motivasi dan inovasi dalam fotografi.

Video (gambar gerak)

Kamera DSLR kita sudah dilengkapi kemampuan merekam dalam format HD adalah sebuah nilai plus dari seorang fotografer. Bisa menghasilkan sebuah video reportase lengkap beserta foto-foto mungkin akan menjadi keharusan di masa mendatang. Bukan hanya video, gambar gerak seperti time lapse juga menarik untuk dikaji sebagai salah satu media penyampai informasi dengan cara yang unik.

Tambahan

Apa yang terjadi jika suatu saat anda menerima job, namun setelah di lapangan klien anda memberikan Anda kamera medium format? Padahal anda sudah membawa kamera DSLR full frame? Tidak semua fotografer dapat mengoperasikan semua jenis kamera, dan itu pengalaman yang terjadi saat saya bekerja sebagai asisten salah seorang fotografer di Sydney. Dia tidak bisa menggunakan kamera medium format. Untung saya sudah pernah memakai kamera medium format sebelumnya, meskipun tidak terlalu mahir. Saya pun langsung betulin semua settingnya dan bos saya sudah tinggal jepret saja.
Dari cerita ini dapat ditarik pelajaran bahwa pengetahuan akan alat sangat penting untuk seorang fotografer. Tidak perlu memilikinya, saya tahu menu-menu kamera medium format juga dari YouTube.

Kesimpulan

4 skill diatas adalah pembeda Anda dengan yang lain.
Tetap semangat
2w_^

- See more at: http://www.infofotografi.com/blog/2013/02/skill-pendukung-fotografer-di-era-modern/#sthash.qGHwnnqq.dpuf
Salah seorang mentor saya pernah mengatakan bahwa saat ini fotografi sudah menjadi milik publik. Hal ini merujuk kepada kepemilikan alat. Pada era fotografi film, hanya segelintir orang yang memiliki kamera karena saat itu fotografi dinilai sangat mahal, baik alat maupun proses cuci cetak (termasuk harga roll film). Sekarang banyak kalangan yang bisa menikmati fotografi dari berbagai gadget, baik DSLR maupun jenis kamera pocket/compact.

Profesi fotografer pun sekarang sepertinya menjadi predikat semua orang yang memegang kamera. Tuntutan fotografer di era modern ini jauh lebih kompleks karena kita hidup di era teknologi. Sebagai fotografer yang rajin menabung untuk masa depan, kita harus belajar bidang lain yang berkaitan dengan fotografi. Salah satunya adalah multimedia. Mari kita kupas mengapa multimedia penting bagi fotografer.
Seperti biasa, mengerti arti kata multimedia sangat penting. Multimedia itu bisa jadi sebuah produk yang berasal dari banyak media. Menurut BBC, multi media adalah suatu kombinasi dari komponen text, audio, visual serta video (gambar gerak). Sudah jelas bahwa fotografi masuk dalam komponen visual. Dari segi produk, fotografi sendiri sudah bisa berdiri sendiri dengan output berupa foto.
Saya lebih tertarik untuk menarik keluar 4 komponen dari arti multimedia, yaitu text, audio, visual serta video, karena mereka itulah media bisa dimaksimalkan (baik terpisah ataupun serempak) untuk menyampaikan pesan khalayak luas.
Fotografer sebagai produsen visual harus menyadari bahwa hidup di era digital harus selalu mengasah kemampuan non fotografis untuk bisa bersaing dengan fotografer di seluruh dunia. Untuk itu seorang fotografer harus menguasai 4 komponen tersebut, dan tidak mudah untuk mempelajari semua elemen tersebut. Pengalaman bisa menjadi guru yang baik. Mencoba dan melakukan kesalahan bisa menjadi pelajaran. Disiplin bisa menjadi cara ampuh untuk menguasai 4 elemen tersebut.

Text

Fotografer jurnalis memang sudah akrab dengan text, karena dalam setiap foto tunggal harus menulis caption, ataupun harus menulis naskah pendek untuk melengkapi foto essay/story. Mulai dari menulis caption, bisa dikembangkan menjadi sebuah cerita pendek. Dari sebuah cerita pendek, bisa diubah menjadi sebuah tulisan reportase. Dari sebuah tulisan reportase, bisa diubah menjadi tulisan opini. Dasar menulis sudah mengakar di seorang fotografer, dan itu yang harus dikembangkan. Bukankah menyenangkan mengembangkan potensi untuk mendukung kegiatan fotografi kita?
Lalu kemanakah text-text yang sudah dibuat itu muncul? Paling simpel dan memungkinkan adalah di BLOG. Menghadirkan tulisan-tulisan di tengah-tengah kesibukan menjadi seorang jurnalis memang sangat sulit. Namun sekali lagi, tidak ada salahnya dicoba. Banyak foto jurnalis di dunia ini menyempatkan waktunya untuk mengisi blog sebagai rumah pribadi untuk tulisan-tulisan personal mereka. Anda mengenal John Stanmeyer? Simak blognya disini. Dia menuliskan banyak pengalamannya saat liputan di belahan dunia dan banyak hal yang bisa kita petik pelajaran dari blognya John Stanmeyer yang dimulai tahun 2011 ini.

Audio

Sewaktu bekerja dengan John Stanmeyer, saya pertama kali mengetahui bahwa dia selalu merekam apa yang terjadi saat dia motret. Hal tersebut populer dengan sebutan field recording. Apa tujuan dari field recording tersebut? Menurut saya melihat slide show dengan musik tertentu itu sangat mengasyikkan, namun ada satu hal yang mengganjal. Copyright lagu adalah tembok utama ketika kita ingin upload slide show foto kita di internet. Salah satu cara yang paling unik adalah dengan menghadirkan field recording sebagai pengganti music pada slide show foto.
Berarti seorang fotografer harus belajar mengedit audio dalam software tertentu. Terus terang, saya belum pernah belajar secara spesifik tentang audio dan recording. Mencari tahu di Google adalah jalan tengahnya, selalu ada cara untuk mengembangkan diri.

Visual

Sebuah elemen dasar dari seorang fotografer adalah visual. Fotografer harus sadar, paham dan mengerti bahwasanya foto yang dihasilkannya adalah sebuah bahasa visual yang seharusnya mudah dipahami oleh khalayak luas. Selalu terdapat pesan tersirat maupun tersurat dalam sebuah foto. Kendali dalam 2 sifat pesan tersebut terletak pada fotografer, dalam artian bagaimana cara penyajian fotografer kepada khalayak? Jika ingin disajikan ke belahan dunia luas, apakah elemen visual yang ada di dalam foto sudah bisa diterima orang-orang di negara lain, yang notabene diwakili oleh seorang editor foto?
Jaman ini jaman edan, dimana 300 juta foto di upload di Facebook. Sebuah konsumsi visual yang gila bukan? Berapa foto yang ter upload di internet jika FB sudah menyumbang 300 juta? Sisi baiknya adalah semakin banyak literasi visual dari website-website bermutu yang akan menjadi sumber referensi, motivasi dan inovasi dalam fotografi.

Video (gambar gerak)

Kamera DSLR kita sudah dilengkapi kemampuan merekam dalam format HD adalah sebuah nilai plus dari seorang fotografer. Bisa menghasilkan sebuah video reportase lengkap beserta foto-foto mungkin akan menjadi keharusan di masa mendatang. Bukan hanya video, gambar gerak seperti time lapse juga menarik untuk dikaji sebagai salah satu media penyampai informasi dengan cara yang unik.

Tambahan

Apa yang terjadi jika suatu saat anda menerima job, namun setelah di lapangan klien anda memberikan Anda kamera medium format? Padahal anda sudah membawa kamera DSLR full frame? Tidak semua fotografer dapat mengoperasikan semua jenis kamera, dan itu pengalaman yang terjadi saat saya bekerja sebagai asisten salah seorang fotografer di Sydney. Dia tidak bisa menggunakan kamera medium format. Untung saya sudah pernah memakai kamera medium format sebelumnya, meskipun tidak terlalu mahir. Saya pun langsung betulin semua settingnya dan bos saya sudah tinggal jepret saja.
Dari cerita ini dapat ditarik pelajaran bahwa pengetahuan akan alat sangat penting untuk seorang fotografer. Tidak perlu memilikinya, saya tahu menu-menu kamera medium format juga dari YouTube.

Kesimpulan

4 skill diatas adalah pembeda Anda dengan yang lain.
Tetap semangat
2w_^

- See more at: http://www.infofotografi.com/blog/2013/02/skill-pendukung-fotografer-di-era-modern/#sthash.qGHwnnqq.dpuf

Berbagai macam teknik fotografi

1. Depth of field (ruang tajam)

Hal-hal yang mempengaruhi ruang tajam:
-Jarak pemotretan (jauh=luas, dekat=sempit)
-Bukaan diafragma (kecil=luas, besar=sempit)
-Jarak fokus lensa /focal length (tele=sempit, wide=luas, normal=bisa diatur)
http://hermawayne.blogspot.com
Contoh foto dengan teknik depth of field

2. Panning
-Panning adalah salah satu cara untuk memberikan kesan gerak pada foto.
-Ketika melakukan panning, anda harus mengikuti objek selama membidik.
-Hasil foto menjadikan objek menjadi relatif tajam dibandingkan dengan backgroundnya yang hampir sepenuhnya blur.
-Untuk mendapatkan foto panning secara maksimal; dengan speed rendah (8-60), dan pakailah tripod (kaki tiga).
http://hermawayne.blogspot.com
Contoh foto dengan teknik panning

3. Slow & stop action
-Slow action : salah satu teknik fotografi yang bertujuan memperlihatkan/menangkap gerakan objek. Biasanya digunakan kecepatan rendah, antara 1/30 sampai 1 detik
-Stop action : kebalikan dari slow, yaitu teknik fotografi untuk bertujuan membekukan gerak objek. Biasanya digunakan kecepatan tinggi, antara 1/125 sampai 1/4000 atau lebih.
http://hermawayne.blogspot.com
Contoh foto dengan teknik slow action

Data teknis:
-Kamera : Nikon FM10
-Lensa : 35 – 70 mm
-Speed : 8
-Diafragma : 3,5
-ASA : 200
-Lokasi : TBS
http://hermawayne.blogspot.com
Contoh foto dengan teknik slow action

Kamera : Canon 30D, speed : 10, diapragma : 5,6 ASA: 1600
http://hermawayne.blogspot.com
Contoh foto dengan teknik stop action

Data teknis:
-Kamera : Nikon D100 Digital
-Lensa : 28 – 105 mm Nikkor D
-Speed : 125 (with soft box)
-Diafragma : 16
-ASA : 200

4. Zooming
-Zooming adalah teknik foto untuk memberikan kesan gerak dengan mengubah panjang fokus lensa.
-Perubahan panjang fokus hanya dapat dilakukan dengan lensa zoom.
-Untuk mendapatkan kesan gerak, anda harus menggunakan kecepatan rana tidak lebih dari 1/30 detik.
-Untuk mendapatkan foto zooming secara maksimal, pakailah tripod (kaki tiga)

Data teknis:
-Kamera : Nikon D100 Digital
-Lensa : 28 – 80 Nikkor D
-Speed : 5 (with flash)
-Diafragma : 3.5
-ASA : 400
-White balance : flash
http://hermawayne.blogspot.com
Contoh foto dengan teknik zooming

5. Bulb
-Kecepatan rana dapat diatur sesuai dengan waktu yang kita inginkan.
-Teknik ini dilakukan dengan menahan tombol pelepas rana dengan lebih lama.
-Untuk mendapatkan hasil foto bulb secara maksimal, dapat digunakan kabel release dan tripod.
-Misal, kita mempergunakan kecepatan 30 detik sampai habis waktu perekaman cahaya.

Sunday, 1 March 2015

Aplikasi edit foto fotografer

Aplikasi edit foto fotografer


PS

Meskipun ada banyak yang siap order edit kanvas landscape dan gambar dari fotografer pro, tapi lebih baik untuk membuat seni kanvas Anda sendiri untuk memiliki sentuhan pribadi. Mengingat resolusi foto yang tepat, salah satu yang paling dapat dibuat sesuai hati anda, itu sebabnya harus melihat program terbaik pengedit foto gratis untuk komputer Windows di sini. membaca, dan men-download yang baik untuk anda.




1.GIMP
GIMP Ini adalah yang paling teratas setiap orang harus memiliki daftar pengedit foto gratis ini, dan merupakan pesaing serius untuk mainstream editor foto berbayar seperti Photoshop. Memiliki antarmuka pengguna yang ramah dan banyak pilihan.
2.VCW(Vicman’sPhotoEditor)
Program Vicman’s Photo Editor ini membantu menciptakan seni kanvas sempurna dengan antarmuka yang akan terlihat sangat akrab bagi pengguna mainstream setiap program editing gambar, terutama mereka yang akrab dengan Adobe CS. Versi komersial biaya $ 30, tapi versi gratis akan cocok untuk sentuhan lebih seni kanvas yang diperlukan untuk mencetak file.
3.ImageForce
Anda dapat melukis gambar dan mengedit foto dengan Image Force perangkat lunak gratis ini berbasis Windows. Ini memiliki beberapa efek visual untuk foto – hemat dengan menggunakan cetakan kanvas Anda.
4.Paint.net
Proyek yang sedang berlangsung ini dimulai oleh mahasiswa Universitas Washington State, dan mudah cocok untuk aplikasi berbayar. Memiliki kemampuan untuk mengedit gambar standar serta efek dan lukisan, dapatkan gratis paint.net.
5.UltimatePaint
Penciptaan, mengedit dan efek yang semua kemungkinan dengan program Ultimate Paintini – perbedaan adalah ukuran dan kelangsungan. Rilis sekarang tersedia naik bertahun-tahun, tetapi beberapa orang masih bersumpah dengan itu untuk mengedit foto untuk pencetakan seni kanvas.
6.PhotoFiltre
Jika Anda tidak yakin dengan tingkat memilih untuk menyesuaikan gambar, PhotoFiltrememakan banyak yang menebak dari tugas itu. Hal ini juga sangat cepat – Anda tidak akan menghabiskan berjam-jam mencari tugas-tugas yang Anda inginkan. Organisasi komersial harus membayar – tetapi untuk Anda, it’s free!
7.Photoshop.com
Bukan teknis editing gambar aplikasi berbasis Windows – ini sebenarnya adalah sebuah aplikasi berbasis browser. Anda tidak perlu download sesuatu, dan antarmukaPhotoshop.com akan tampak jauh lebih akrab … karena datang di latar belakang browser favorit Anda. Ada pilihan bebas untuk digunakan
8FotoFlexer.com
Perangkat lunak jenis layanan yang menawarkan untuk mencetak penciptaan seni kanvas,FotoFlexer adalah sangat sederhana untuk menggunakan aplikasi editing gambar online. Ini termasuk gaya Photoshop Curves dialog – tetapi downside adalah bahwa rotasi terbatas pada 90 derajat bertahap.
9.Photoscape
Tidak terlihat seperti pada pandangan pertama – tetapi mereka yang telah menggunakannya untuk sementara waktu pendukung sering bernafsu Photoscape . Ini memiliki fitur profil yang sangat besar, menyaingi Photoshop, serta alat-alat praktis seperti kemampuan pemrosesan batch, RAW converter, alat penangkapan layar, colour picker, dll
10.SerifPhotoPlus
Dengan menggunakan software Serif PhotoPlus ini untuk mengedit seni kanvas Anda mencetak foto adalah cara yang hebat untuk mengenal yang berbayar, program komersial gratis. PhotoPlus serif memberikan versi lama menjauh dari perangkat lunak mereka secara gratis, untuk menarik pengguna untuk membeli versi saat ini.

Tips Fotograph Bagi Pemula

A. Fotografi

Fotografi ( Photography ) berasal dari kata Photo (Cahaya) dan Grafo ( menulis / menggambar ), sehingga dapat diartikan bahwa fotografi adalah suatu teknik menggambar dengan cahaya. Atas dasar tersebut, jelas bahwa cahaya sangat berperan penting dan menjadi sumber utama dalam memperoleh gambar (tanpa cahaya tidak akan ada hasil foto).


B. Kamera SLR

Kamera SLR ( Single Lens Reflex ) atau Kamera D-SLR ( Digital ) merupakan kamera dengan jendela bidik (Viewfinder) yang memberikan gambar sesuai dengan sudut pandang lensa melalui pantulan cermin yang terletak di belakang lensa.   Pada umumnya kamera biasa memiliki tampilan dari jendela bidik yang berbeda dengan sudut pandang lensa  karena jendela bidik tidak berada segaris dengan sudut pandang lensa .

Fotografi berkaitan erat dengan cahaya (jadi untuk menghasilkan sebuah foto diperlukan adanya cahaya, tanpa ada cahaya maka tidak akan ada foto), maka kamera berfungsi untuk mengatur cahaya yang ditangkap image sensor ( sensor gambar pada kamera digital atau film pada kamera konvensional ). Untuk mengatur cahaya, terdapat 2 hal mendasar dalam kamera, yakni Shutter Speed (Kecepatan Rana) dan Aperture (Diafragma).

C. Lensa

Dalam fotografi, lensa berfungsi untuk memokuskan cahaya hingga mampu membakar medium penangkap (film). Di bagian luar lensa  biasanya terdapat tiga cincin, yaitu cincin panjang fokus (untuk lensa  jenis variabel), cincin diafragma, dan cincin fokus.

PANJANG LENSA

Panjang lensa  biasa disebut Focal Length

Panjang lensa mempengaruhi:
a. JARAK pemotretan
b. SUDUT pandang
c. PEMBESARAN
d. FASILITAS BUKAAN DIAFRAGMA

Lensa Khusus:
a. Lensa Makro (biasa disebut Macro Lens)
b. Penambahan panjang lensa (biasa disebut Tele Converter atau Extender)
c. Lensa pengoreksian perspektif pada subjek
d. Lensa Lunak (biasa disebut Soft Focus Lens)

Macam-macam lensa

  • Lensa Standar. Lensa ini disebut juga lensa normal. Berukuran 50 mm dan memberikan karakter bidikan natural.
  • Lensa Sudut-Lebar (Wide Angle Lens). Lensa jenis ini dapat digunakan untuk menangkap subjek yang luas dalam ruang sempit. Karakter lensa ini adalah membuat subjek lebih kecil daripada ukuran sebenarnya. Dengan menggunakan lensa jenis ini, di dalam ruangan kita dapat memotret lebih banyak orang yang berjejer jika dibandingkan dengan lensa standar. Semakin pendek jarak fokusnya, maka semakin lebar pandangannya. Ukuran lensa ini beragan mulai dari 17 mm, 24 mm, 28 mm, dan 35 mm.
  • Lensa Fish Eye. Lensa fish eye adalah lensa wide angle dengan diameter 14 mm, 15 mm, dan 16 mm. Lensa ini memberikan pandangan 180 derajat. Gambar yang dihasilkan melengkung.
  • Lensa Tele. Lensa tele merupakan kebalikan lensa wide angle. Fungsi lensa ini adalah untuk mendekatkan subjek, namun mempersempit sudut pandang. Yang termasuk lensa tele adalah lensa berukuran 70 mm ke atas. Karena sudut pandangannya sempit, lensa tele akan mengaburkan lapangan sekitarnya. Namun hal ini tidak menjadi masalah karena lensa tele memang digunakan untuk mendekatkan pandangan dan memfokuskan pada subjek tertentu.
  • Lensa Zoom. Merupakan gabungan antara lensa tandar, lensa wide angle, dan lesa tele. Ukuran lensa idak fixed, misalnya 80-200 mm. Lensa ini cukup fleksibel dan memiliki range lensa ang cukup lebar. Oleh karena itu lensa zoom banyak digunakan, sebab pemakai tinggal memutar ukuran lensa sesuai dengan yang dibutuhkan.
  • Lensa Makro. Lensa makro biasa digunakan untuk memotret benda yang kecil.

D. Fokus

Fokus adalah bagian yang mengatur jarak ketajaman lensa sehingga gambar yang dihasilkan tidak berbayang..

F. Shutter Speed

Shutter speed atau kecepatan rana merupakan kecepatan terbukanya jendela kamera sehingga cahaya dapat masuk ke dalam image sensor. Satuan daripada shutter speed adalah detik, dan sangat tergantung dengan keadaan cahaya saat pemotretan. Semisal cahaya terang pada siang hari, maka shutter speed harus disesuaikan menjadi lebih cepat, semisal 1/500 detik. Sedangkan untuk malam hari yang cahayanya lebih sedikit, maka shutter speed harus disesuaikan menjadi lebih lama, semisal 1/5 detik. Hal ini sekaligus menjelaskan mengapa foto pada malam hari cenderung buram, bahwa shutter speed yang lebih lambat memungkinkan pergerakan kamera akibat getaran tangan menjadikan cahaya bergeser sehingga foto menjadi buram / blur.

Foto dengan shutter speed lambat
Foto dengan shutter speed lambat 


Foto dengan shutter speed cepat
Foto dengan shutter speed cepat 

G. Aperture

Aperture atau diafragma merupakan istilah untuk bukaan lensa. Apabila diibaratkan sebagai jendela, maka diafragma adalah kiray / gordyn yang dapat dibuka atau ditutup untuk menyesuaikan banyaknya cahaya yang masuk. Pada kamera aperture dilambangkan dengan huruf  F  kecil dan dengan satuan sebagai berikut:
f/1.2
f/1.4
f/1.8
f/2.0
f/2.8
f/3.5
f/4.0
dst...

Semakin kecil angka satuan maka akan semakin besar bukaan lensa  (f/1.4 lebih besar bukaannya dibandingkan dengan f/4.0,  f/2,8 lebih besar bukaannya dibandingkan dengan f/16).
Gambar Aperture pada lensa
Gambar Aperture pada lensa 


Jadi, korelasi antara shutter speed dan aperture adalah bahwa semakin besar bukaan lensa maka shutter speed akan semakin cepat, sebaliknya semakin kecil bukaan lensa maka shutter speed akan semakin melambat.

perbadingan hasil foto dg memakai angka f kecil dan angka f besar

Keterangan:

perhatikan perbedaan rentang ruang tajam pada ketiga foto diatas. Pada bukaan diafragma besar ruang tajamnya lebih sempit dan demikian seterusnya.

Tips : 

Gunakan bukaan besar (angka f kecil) untuk mengisolasi background yang mengganggu. Gunakan bukaan kecil (angka f besar) untuk pemotretan lanskap (pemandangan).

Beberapa istilah dlm fotografi yang amat perlu difahami:

  1.  APS: Advanced Photo System
  2.  DIL : Drop in Loading
  3.  CID : Cartridge Identification number
  4.  FID : Film strip Identification number
  5.  USC : Uniform Sigma Crystal/kristal sigma seragam
  6.  Kristal sigma : Butir-butir perak halida
  7.  AFS : Auto Focus Silent Wave Motor
  8.  AFD : Auto Focus Distance Information
  9.  DIR : Development Inhibitor Releaser
  10.  SPD : Silicon Photo Diode
  11.  LCD : Liquid Crystal Display
  12.  LED : Light Emitting Diode, lampu
  13.  ISO/ASA : Derajat sensitivitas film
  14.  ISO : International Standart Organization
  15. ASA : American Standart Association
  16. DIN : Deutsche Industry Norm
  17. NiMH : Nikel Metal Hydride
  18. NiCd : Nikel Cadmium
  19. DRAM : Data Random Acces Memory
  20. RISC : Reduce Intruction Set Computer
  21. CCD : Charge Couple Device (pada kamera digital)
  22. CPL : Circular Polarizing
  23. USM : Ultrasonic motor
  24. ESP : Elektro-Selective Pattern (Sistem pengkuran cahaya otomatik, di saat kondisi kesenjangan kecerahannya sangat besar
  25. SLR : single Lens Reflek, kamera lensa tunggal yang menggunakan cermin dan prisma
  26. TLR : Twin lens Refleks, kamera yang menggunakan dua lensa , satu untuk melihat, lainnya utnuk meneruskan cahaya ke film
  27. Lens Mount : Dudukan lensa
  28. MF : Manual Fokus
  29. AF : Auto Fokus
  30. Fps : Frame per second:, satuan kecepatan pengambilan gambar dalam gambar perdetik
  31. DOF : Depth of Field; ruang tajam, merupakan jarak, dimana gambar masih terlihat tajam/focus, bergantung pada: diafragma, panjang lensa dan jarak objek
  32. GN : Guide number; kekuatan cahaya blitz merupakan perkalian antara jarak (dalam meter atau feet) dan diafragma
  33. AR Range : Tingkat terang cahaya dimana system aotufocus masih dapat bekerja, dalam satuan EV
  34. EV : Exposure Value; kekuatan cahaya. Sample, EV=0 kekuatan cahaya pada difragma f/1,0 kecepatan 1 detik
  35. Exposure mode : Modus pencahayaan, pada umumnya ada 4 tipe: manual, Aperture priority, Shutter priority dan Programed (auto)
  36. Aperture : Diafragma
  37. Lens Hood : Tudung lensa
  38. Aperture priority : Prioritas pengaturan pada diafragma, kecepatan rana otomatis
  39. Shutter : Rana
  40. Shutter Priority : Prioritas pengaturan pada kecepatan rana, diafragma otomatis
  41. Exposure compensation :Kompensasi pencahayaan, membuat alternatif pencahayaan dari normal menjadi lebih atau kurang
  42. Flash Exposure Compensation : Kompensasi pencahayaan blitzt
  43. Metering: Pola pengaturan cahaya, biasanya terbagi dalam 3 kategori, centerweighted, evaluative/matrix, dan spot
  44. Center weighted Metering : Pengukuran pencahayaan pada 60% daerah tengah gambar
  45. Evaluative/Matrix : Pengukuran pencahayaan berdasarkan segmen-segmen dan presentase tertentu
  46. Spot : Pengukuran pencahayaan hanya pada titik tertentu
  47. View finder : Jendela bidik
  48. Built in Dioptri: Dilengkapi dengan pengatur dioptri (lensa+ atau – bagi mereka yang berkacamata)
  49. Eye piece Blind : Tirai penutup jendela bidik
  50. Interchangeable Focusing Screen : Fasilitas untuk dapat mengganti focusing screen
  51. Focusing screen : Layar focus
  52. Bracheting : Pengambilan gambar yang sama menggunakan pengukuran pencahayaan yang berbeda
  53. Flash Sync : Sinkron kilat, kecepatan maksimum agar body dan flash masih bekerja harmonis
  54. TTL: Through The Lens, Sistem pengukuran pencahayaan melalui lensa
  55. Remote Flash : Melepaskan lampu kilat dari badan kameranya dan meletakkannya si duatu tempat untuk mendapatkan efek foto yang diinginkan
  56. Bounce : Cahaya lampu kilat yang di pantulkan ke langit-langit atau bidang lain sehingga cahaya menerangi objek secara merata
  57. Slave unit : (Lampu kilat + mata listrik/elctric eye); adalah alat abntu yang sanggup menyalakan lampu kilat bila mata itu menerima sinar dari lampu kilat lain
  58. Wireless TTL : Sistem pengukuran TTL tanpa melalui kabel
  59. Multiple exposure : Fasilitas pemotretan berulang pada fram eyang sama
  60. Pupup Flash : Blitz kecil, terbuat menyatu dengan body
  61. Stop : Satuan pencahayaan, 1 stop sama dengan 1 EV
  62. Red Eye Reduction : fasilitas untuk mengurangi efek mata merah yang biasa terjadi pada pemotretan menggunakan blitz pada malam hari
  63. PC terminal : Terminal untuk blitz di luar hot shoe
  64. Hot shoe : Kaki blitz
  65. Mirror Lock up : Pengunci cermin, agar getaran dapat dikurangi pada saat rana bergerak
  66. Shiftable program : Pada mode program, exposure setting dapat diubah secara otomatis dalam EV yang sama, misalnya dari 1/125 menjadi 1/250 detik, f 5.6 dmenjadi f 11
  67. Second Curtain Sync : Fasilitas untuk menyalakan blitz sesaat sebelum rana menutup
  68. Shutter release : Pelepas rana
  69. Self Timer : Alat penangguh waktu pada kamera
  70. Vertical Grip : Alat pelepas rana utnuk pengambilan secra vertical tanpa harus memutar tangan
  71. Data Imprint : Fasilitas pencetakan data tanggal pada film
  72. Reloadable to last frame: fasilitas untuk mengembalikan film yang telah digulung di tengah ke posisi terakhir yang terpakai
  73. Fill In flash : Blitz pengisi, dalam kondisi tidak memerlukan blitz, blitz tetap dinyalakan untuk menerangi bagian-bagian yang gelap seperti bayangan
  74. Intervalometer : Fasilitas epmotretan otomatis dalam jarak waktu yang tertentu
  75. Multispot : Pengukuran pencahayaan dari beberapa titik
  76. Back : Sisi belakang kamera, berfungis pula sebagai penutup film
  77. Bayonet : Sistem dudukan lensa yang hanya memerlukan putaran kurang dari 90 derajat untuk pergantian lensa
  78. Bulk film : Film kapasitas 250 exposure
  79. Wide lens : lensa lebar, mempunya jarak titik bakar yang pendek, lebih pendek dari 50,,, biasanya:
    · 16-22mm (lensa lebar super)
    · 24-35mm (lensa lebar medium
    · 6-15mm (lensa mata ikan)
  80. Push : Meningkatkan kepekaan film dalam pemotretan, missal dari ISO 100-200/lebih
  81. Pull : kebalikan dari Push
  82. Main light : Cahaya pengisi/tambahan
  83. Foto wedding : Potraiture berpasangan (menciptakan rekaman gambar yang romantisme, baik dari posenya maupun dari suasananya
  84. Foto wedding terbagi 2 yaitu:
  85. Neo Classic Potraiture, ialah bentuk visual foto berpasangan yang beraura romantis
  86. Classic wedding, ialah bentuk foto berpasangan yang harus menjadi kenangan
  87. Blouwer : Kipas angin yang digunakan pada pemotretan model untuk menghasilkan efek angin
  88. Reverse ring : digunakan untuk memasang lensa yang di balik, untuk membuat lensa makro alternatif agar cahaya yang masuk tidak bocor
  89. Golden section : Potongan kencana; Hukum komposisi yang mengatakan bahwa keselarasan akan tercapai kalau suatu bidang adalah kesatuan dari 2 bidang yang saling berhubungan
  90. Komposisi : susunan garis, bidang, nada, kontras dan tekstur dalam suatu format tertentu
  91. Siluet : Teknik pencahayaan untuk menampilkan bentuk objek tanpa menunjukkan detilnya
  92. Framing : Pembingkaian objek untuk memberi kesan mendalam/ dimensi objek foto
  93. Panning : Teknik pengambilan gambar dengan kesan gerak (berubahnya latar belakang menjaid garis-garis sementara objek utama terekam jelas
  94. Sandwich : Teknik menggabungkan foto
  95. Cross process : Proses silang, biasanya di lakukan pada film positiv (E6) ke film negatif (C 41), sehingga menimbulkan warna- warna baru pada foto
  96. Esai foto : (Biar foto yang bicara), merangkai foto menjadi cerita bertem
  97. xposure time kalo ga salah sih lamanya waktu kita ngebuka bukaan ( Biasanya di mode Bulb )
  98. Sesuai dengan artinya, Interpolasi merupakan salah satu cara yang dipakai untuk memperbesar ukuran gambar dengan memultiplikasi pixel ukuran gambar yang diduplikasi menjadi lebih besar. Biasanya gambar interpolasi bila dilihat dengan teliti akan menurunkan ketajaman gambar karena bukan hasil asli keluaran dari sensor.
  99. HSM : Singkatan dari Hypersonic Motor. Artinya kurang lebih sama dengan USM, auto fokus cepat dan tidak bersuara. Kode ini akan Anda temukan di lensa merek Sigma.
  100. AF-S : Sama dengan kode diatas, kode ini akan Anda temukan di lensa merek Nikon.
  101. SAM : Sama dengan kode diatas, kode ini akan Anda temukan di lensa merek Sony.
  102. AF : Lensa Nikon yang tidak memiliki auto fokus built-in. Di kamera pemula Nikon seperti D60 dan D5000, tidak bisa mengunakan lensa ini untuk auto fokus, tapi harus dengan manual fokus.
  103. VR : Singkatan dari Vibration Reduction, fungsinya sama dengan Image Stabilization.
  104. OS : Singkatan dari Optical Stabilization, fungsinya sama dengan Image Stabilization. Kode ini akan Anda temukan di lensa Sigma.
  105. VC : Singkatan dari Vibration Compensation, fungsinya sama dengan Image Stabilization. Kode ini akan Anda temukan di lensa Tamron.
  106. DX, DT, DC : Kode lensa yang di optimalkan untuk kamera sensor krop. Kode ini akan Anda temukan di lensa Nikon, Sony atau Sigma.
  107. DG : Kode lensa yang di kompatibel untuk kamera sensor krop dan full frame. Kode ini akan Anda temukan di lensa Sigma.
  108. L -> kependekan dari "Luxury", biasa diplesetkan menjadi "Larang". Lensa-lensa L-series Canon adalah lensa yang berada di jajaran atas. Dibuat dengan optik-optik pilihan yang berkualitas, juga memiliki build quality yang baik dan kokoh. Lensa seri ini ditandai dengan adanya gelang merah di leher bagian depan lensa. L singkatan dari luxury alias lensa mewah yg kualitasnya tinggi.
  109. DO -> kependekan dari "Diffractive Optics". Lensa seri ini bila dibandingkan dengan lensa lain yang memiliki focal length dan aperture maksimal yang sama biasanya memiliki bentuk yang lebih kecil dan berat yang lebih ringan. Canon juga meng-claim lensa seri DO ini memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengatasi chromatic aberration. Lensa ini ditandai dengan adanya gelang berwarna hijau di leher lensa bagian depan. Hingga saat ini Canon baru memproduksi 2 macam lensa dengan diffractive optics ini.
  110. EF -> mount lensa Canon sejak tahun 1987, mount sebelumnya bernama FD. Tambahan -S di belakang adalah kependekan dari Short Back Focus. Lensa dengan seri ini memiliki 'buritan' yang lebih nongol sehingga tidak bisa masuk ke body fullframe. Desainnya pun memang dirancang untuk body non-fullframe (APS-C) sehingga memiliki image circle yang lebih kecil daripada lensa seri EF biasa. Jika dipaksakan dipasang pada body fullframe (baik dibantu dengan extension tube atau cara lain), maka akan menghasilkan foto dengan vignetting yang cukup parah akibat jangkauan image circle tidak sampai mencakup keseluruhan frame.
  111. IS -> kependekan dari "Image Stabilizer". Teknologi peredam getar pada lensa yang memungkinkan lensa menstabilkan getaran tangan yang bisa menyebabkan foto shaking. Kemampuan IS biasanya diukur dengan stop rating, di mana semakin tinggi angka ratingnya, semakin baik kemampuan IS lensa tersebut dalam menstabilkan getaran.
  112. USM -> kependekan dari "Ultra-sonic Motor", bisa diplesetkan menjadi "Untuk Semua Momen". Lensa AF dengan motor ini biasanya memiliki kemampuan autofocus yang lebih cepat dan senyap sehingga dapat menangkap momen dengan lebih baik dan akurat.
  113. EF-S : jenis vatting / pangkon / bajonet / mounting
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com