Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Monday, 2 March 2015

29 Kutipan Fotografi dari Henri Cartier-Bresson

Sama seperti musik dan film, ada beragam genre dalam fotografi. Landscape, macro, portrait, wedding, human interest, underwater, pinhole, nude, dan masih banyak lainnya. Nah, gara-gara sering nonton saluran DigitalRev TV, saya jadi tertarik untuk mendalami genre street photography. Sama nude juga tertarik sih, tapi takutnya nanti malah menjerusnya pornografi bukan fotografi. Pfft~

henri cartier bresson

Henri Cartier-Bresson! Jika ngomongin street photography maka nama fotografer satu ini pasti bakal sering didengar. Ya, karena beliau lah yang mengembangkan apa yang kemudian disebut “fotografi jalanan”, yang memadukan elemen-elemen fotojurnalisme, foto-dokumentasi, dan pendekatan artistik lainnya.
22 Agustus. 106 tahun yang lalu, “father of street photography” ini lahir ke dunia, tepatnya di Chanteloup-en-Brie, Seine-et-Marne, Perancis. Dan sebagai penghormatan kepada beliau, maka saya akan membagi beberapa kutipan-kutipannya soal fotografi dengan tambahan hasil jepretannya.
© Henri Cartier-Bresson / Magnum Photos
#1 Your first 10,000 photographs are your worst.
10.000 jepretan foto pertama kita adalah yang terburuk. Jadi teruslah memotret pakai mode burst.

#2 It is an illusion that photos are made with the camera… they are made with the eye, heart and head.
Foto bukan dibuat dengan kamera. Foto itu dibuat dengan mata, hati dan kepala. Tapi tanpa kamera ga bakalan ada foto sih.

#3 To photograph: it is to put on the same line of sight the head, the eye and the heart.
Memfoto itu adalah menyejajarkan antara kepala, mata dan hati. Kameranya juga harus sejajar dengan obyek yang mau kita foto.

#4 A photograph is neither taken or seized by force. It offers itself up. It is the photo that takes you. One must not take photos.
Foto yang akan mendatangi kita. Tapi sama seperti jodoh, kalau ga dicari tetap aja kita jadi jomblo.
#5 Of all the means of expression, photography is the only one that fixes a precise moment in time.
Ya, foto itu media ekspresi untuk mengabadikan suatu momen berharga.
© Henri Cartier-Bresson / Magnum Photos
#6 The picture is good or not from the moment it was caught in the camera.
Baik buruknya sebuah foto tergantung pada momen yang tertangkap kamera. Bukan soal kameranya.
#7 The creative act lasts but a brief moment, a lightning instant of give-and-take, just long enough for you to level the camera and to trap the fleeting prey in your little box.
Percepat proses berpikir kreatif kita, soalnya proses untuk menjepret itu yang lama.
#8 To me, photography is the simultaneous recognition, in a fraction of a second, of the significance of an event.
Dalam sepersekian detik, suatu peristiwa penting bisa terjadi. Jadi fotografi itu soal kesimultanan.
#9 Photography is, for me, a spontaneous impulse coming from an ever attentive eye which captures the moment and its eternity.
Fotografi adalah dorongan spontan mata untuk mengabadikan suatu momen.
#10 Your eye must see a composition or an expression that life itself offers you, and you must know with intuition when to click the camera.
Mata kita harus bisa melihat komposisi maupun ekspresi, dan percaya pada intuisi ketika menjepret.
© Henri Cartier-Bresson / Magnum Photos
 #11 For me, the camera is a sketch book, an instrument of intuition and spontaneity.
Kamera adalah buku gambar, dan perkakasnya adalah intuisi serta spontanitas.
#12 Above all, I craved to seize the whole essence, in the confines of one single photograph, of some situation that was in the process of unrolling itself before my eyes.
Satu foto harus bisa mendeskripsikan seluruh esensi dari momen yang kita tangkap.
#13 Memory is very important, the memory of each photo taken, flowing at the same speed as the event. During the work, you have to be sure that you haven’t left any holes, that you’ve captured everything, because afterwards it will be too late.
Jepret ini itu sebelum terlambat.
#14 Photographers deal in things which are continually vanishing and when they have vanished there is no contrivance on earth which can make them come back again.
Penyesalan selalu datang di akhir.
© Henri Cartier-Bresson / Magnum Photos
#15 This recognition, in real life, of a rhythm of surfaces, lines, and values is for me the essence of photography; composition should be a constant of preoccupation, being a simultaneous coalition – an organic coordination of visual elements.
Komposisi. Elemen penting dari fotografi.
#16 Reality offers us such wealth that we must cut some of it out on the spot, simplify. The question is, do we always cut out what we should?
Realitas menawarkan kita sesuatu yang banyak, dan tugas kita lah memotong dan menyederhanakan dalam sebuah foto.
#17 While we’re working, we must be conscious of what we’re doing.
Kalau lagi kerja, jangan sambil mabuk.
#18 We must avoid however, snapping away, shooting quickly and without thought, overloading ourselves with unnecessary images that clutter our memory and diminish the clarity of the whole.
Jangan asal jepret!
© Henri Cartier-Bresson / Magnum Photos
#19 A photographer must always work with the greatest respect for his subject and in terms of his own point of view.
Jadi fotografer itu jangan songong.
#20 In photography, the smallest thing can be a great subject. The little, human detail can become a Leitmotiv.
Dalam fotografi, hal terkecil bisa jadi subyek yang besar.
#21 The most difficult thing for me is a portrait. You have to try and put your camera between the skin of a person and his shirt.
Yang paling sulit itu fotografi portrait. Kamu harus berusaha meletakan kameramu antara kulit subyek fotomu dan pakaiannya.
#22 As time passes by and you look at portraits, the people come back to you like a silent echo. A photograph is a vestige of a face, a face in transit. Photography has something to do with death. It’s a trace.
Jangan foto portrait kalau ga mau si subyek menghantui kita.
© Henri Cartier-Bresson / Magnum Photos
#23 As far as I am concerned, taking photographs is a means of understanding which cannot be separated from other means of visual expression. It is a way of shouting, of freeing oneself, not of proving or asserting one’s own originality. It is a way of life.
Fotografi bukan soal gaya-gayaan semata, tapi ini jalan hidup.
#24 Thinking should be done before and after, not during photographing.
Berpikir harus dilakukan sebelum dan sesudahnya, bukan saat menjepret.
#25 Photography is an immediate reaction, drawing is a meditation.
Fotografi adalah reaksi langsung, menggambar adalah meditasi.
© Henri Cartier-Bresson / Magnum Photos
#26 The intensive use of photographs by mass media lays ever fresh responsibilities upon the photographer. We have to acknowledge the existence of a chasm between the economic needs of our consumer society and the requirements of those who bear witness to this epoch. This affects us all, particularly the younger generations of photographers. We must take greater care than ever not to allow ourselves to be separated from the real world and from humanity.
Jangan asal jepret demi uang semata.
#27 I believe that, through the act of living, the discovery of oneself is made concurrently with the discovery of the world around us.
Dengan menjelajahi satu orang kita bisa menjelajahi seluruh dunia.
#28 You just have to live and life will give you pictures.
Kamu hanya harus hidup, dan kehidupan akan memberimu gambar.
#29 Of course it’s all luck.
Semuanya hanya tentang keberuntungan.
© Henri Cartier-Bresson / Magnum Photos

HCB merupakan pengguna Leica, sehingga biasanya streetog menjadikan ‘Lamborghini-nya kamera’ ini sebagai barang keramat untuk melakukan fotografi jalanan. Tapi untuk mengabadikan jalanan ga perlu punya kamera rangefinder super mahal ini, karena kamera terbaik ya kamera yang sedang kita pegang saat di jalan.

Thursday, 26 February 2015

Sejarah Kamera

Sejarah Kamera
Kamera Obscura
Foto: io-noi-aldo.sonance.net
Sejarah Kamera
Delapan Jam Untuk Satu Foto!

Kamera kini ada di mana-mana dan semakin mudah dipakai. Bagaimana sejarah lahirnya kamera?
Liburan memang menyenangkan. Saat-saat seperti itu harus diabadikan supaya bisa dikenang terus. Caranya bisa dengan merekam lewat video atau kamera. Kini siapa saja bisa mengabadikan saat-saat mengasyikkan. Soalnya hampir setiap handphone  kini ada kameranya. Berbicara tentang kamera, bagaimana, ya, sejarahnya? Karto/XY-Kids!

Kamera Obscura
Kamera pertama yang tercatat dalam sejarah adalah kamera obscura. Obscura  berasa dari bahasa Latin yang berarti ruang gelap. Kamera ini berbentuk ruangan khusus. Di dalamnya dipantulkan cahaya yang terdiri dari dua lensa konveks. Kamera ini dikembangkan pertama kali oleh Alhazen antara tahun 965-1039 Setelah Masehi. Namun, sebenarnya cara kerja kamera ini sudah ada sejak 470-390 Sebelum Masehi yang ditemukan oleh seorang filsuf China, Mozi.
 
Kamera Portable Obscura
Pada tahun 1960-an, seorang peneliti Inggris, Robert Boyle dan pembantunya Robert Hooke, menemukan kameraportable  (bisa dipindah-pindah) obscura. Penemuan mereka ini disempurnakan lagi oleh Johann Zahn tahun 1685. Kamera ini sering kita lihat di film-film bertema jaman dahulu. Kamera ini memakai lampu kliat yang meledak dan mengeluarkan asap.
Merekam Gambar
Orang yang berjasa menyempurnakan kamera adalah Jacques Daguerre. Tahun 1837, dia mengembangkan cara membuat foto, yang kemudian disebut daguerreotype . Prosesnya menggunakan lempengan copper  (tembaga). Daguerre adalah seniman asal Perancis yang ingin membuat gambar lebih bagus. Dia bekerjasama dengan Joseph Nicephore Niepce yang lebih dahulu sukses. Niepce sebenarnya sudah membuat foto di tahun 1826. Tapi proses pembuatan foto ini tidak praktis. Orang harus bergaya di depan kamera selama 8 jam untuk menghasilkan satu foto. Hasilnya pun masih buram. Meski begitu, mereka kemudian memberitahukan penemuan itu ke masyarakat. Sebagai jasanya, pemerintah Perancis memberi pensiun seumur hidup kepada Daguerre dan anak Niepce. Niepce tidak menerima penghargaan itu karena sudah meninggal lebih dulu.
 
Cetak Banyak
Penemuan  Daguerre luar biasa, meski cuma bisa mencetak satu kali. Kemudian muncul teknologi baru calotype yang bisa memperbanyak foto lewat kertas film negatif. Teknologi ini ditemukan William Fox Talbot dari Inggris tahun 1844. Meski cetakannya tidak sebagus foto Daguerre, tapi dia bisa memperbanyak hasilnya.
 
Cetak Cepat
Setelah Daguerre dan William Talbot, tahun 1852 Frederick Scott Archer membuat temuan mencetak foto lebih cepat. Hanya dalam waktu kurang dari lima detik, foto udah tercetak. Prosesnya, gambar sudah dicetak ketika plat masih basah. Teknik ini dinamakan collodion . 

Bahan gelatin
Tahun 1871, Richard Maddox menemukan gelatin, sebuah bahan untuk mencetak foto. Bahan ini menggantikan plat fotografik. Dengan penemuannya ini, gambar bisa dicetak lebih banyak dan kualitasnya lebih bagus. Ketika itu, kamera sudah ada yang lebih handy  alias bisa ditenteng.
Abad ke-20
Memasuki abad ke-20, penemuan di bidang kamera terus berlanjut. Misalnya ditemukannya film berwarna tahun 1901. Setelah itu, film berwarna berlapis yang disebut Kodachrome ditemukan. Kodak juga menemukan film berukuran 35 mm yang sangat populer itu. Belakangan ditemukan lagi kamera digital.
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com